Kamis, 30 Mei 2013

Aliran Hinayana dan Mahayana



Aliran Hinayana dan Mahayana

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Pada Mata Kuliah Budhisme.
                                        Pembimbing. Hj. Siti Nadroh, M. Ag              
                                                               
                                   

                                                Nama : Innani Musyarofah
                                                Nim    : (1111032100041)

Description: C:\Users\TOSHIBA\Documents\Copy of LOGO UIN 1.jpg

Jurusan Perbandingan Agama
Fakultas Ushuluddin
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta  2013



A.    Pendahuluan
Sebelum saya memaparkan sedikit tentang aliran Mahayana dan hinayana. Banyak sekali kitab yang menjadi sumber pengetahuan kita tentang agama Budha. Sayangnya sudah banyak yang hilang. Yang tingggal hanya petila-petilan atau fragmen-frakmen saja. Kitab-kitab yang tertulis dalam bahasa pali yang dipergunakan oleh aliran Theravada dari golongan hinayana yang terdapat dilangka, birma, dan muangthai, sedang kitab yang tertulis dalam bahasa sanskerta kebanyakan dipergunakan oleh aliran Mahayana yang terdapat di Nepal,Tibet,Cina dan Jepang. Yang dimaksud kitab sutra ialah kitab-kitab yang dipandang sebagai ucapan budha itu sendiri, sekalipun kitab-kitab itu ditulis berabad abad setelah wafatnya sang Buddha. Menurut aliran Hinayana yang dianggap sebagai kitab sutra ialah kitab kitab yang dulu dikumpulkan pada Muktamar Buddhis yang pertama pada tahun 383 SM. Segala yang timbul saat itu tidak diketahui keasliannya.[1]













  1. Ajaran Hinayana
Dalam ajaran pokok Hinayana mewujudkan suatu perkembangan yang logis dari dasar-dasar yang terdapat dalam kitab kanonik.  Jika ajaran itu dikstisarkan secara umum, dapat dirumuskan sedemikian:
  1.  Segala sesuatu bersifat fana serta berada hanya untuk sesaat saja. Apa yang berada untuk sesaat saja itu disebut dharma. Oleh karena itu tidak ada yang tetap berada. Tidak ada aku yang berfikir, sebab yang ada masalah pikiran. Tidak ada yang aku merasa, sebab yang ada adalah perasaan, demikian seterusnya.
  2. Dharma-dharma itu adalah kenyataan atau tealitas yang kecil dan pendek, yang berkelompok sebagai sebab akibat. Karena pengaliran Dharma yang terus menerus maka timbullah kesadaran aku yang palsu atau ada’’perorangan’’yang palsu.
  3. Tujuan hidup ialah mencapai Nirwana, tempat kesadaran ditiadakan. Sebab segala kesadaran adalah belenggu karena kesadaran tidak lain adalah kesadaran terhadap sesuatu. Apakah yang tinggal berada dalam Nirwana itu, sebab tidak diuraikan dengan jelas.
  4. Cita-cita yang tertinggi adalah menjadi arhat, yaitu orang yang sudah henti keinginannya, setidaknya, ketidaktahuannya, dan sebagainya. Oleh karena itu ditaklukkan lagi pada kelahiran kembali.
  1. Ajaran Mahayana
Dua kata yang seolah-olah menjadi kunci bagi Ajaran Mahayana adalah Bodhisattwa  pada tiap halaman tulisan-tulisan Mahayanan. Dan sunyata karena dua kata itu hampir terdapat berarti yang hakikat atau tabiatnya adalah Bodhi (hikmat) yang sempurna.
Sebelum Mahayana timbul, pengertian Bodhisattwa sudah di kenal juga, dan dikenakan juga Buddha Gautama sebelum ia menjadi Buddha. Jadi semula Bodhisattwa adalah sebuah kelar bagi tokoh yang ditetapkan untuk menjadi Buddha di dalam Mahayana adalah orang yang sudah melepaskan dirinya dan dapat menemukan sarana untuk menjadikan benih pencerahan tumbuh dan menjadi masa pada diri orang lain.seorang Bodhisattwa bukan hanya merenungkan kesengsaraan dunia saja, melainkan juga turut merasakan dengan beratoleh karenanya ia sudah mengambil keputusan untuk mempergunakan segala aktifitasnya sekarang dan kelak juga keselamatan keselamatan dunia. Karena kasihnya kedunia maka segala kebajikanya dipergunakan untuk menolong orang lain.
Cita-cita tertinggi Mahayana ialah untuk menjadi Bodhisattwa cita-cita Mahayana ini juga berlainan sekali dengan cita-cita untuk menjadi Pratyeka Buddha seperti yang diajarkan Hinayana, iyaitu bahwa karena usahanya sendiri orang  mendapat pencerahan bagi dirinya sendiri saja, tidak untuk diberikan untuk orang lain. demikianlah cita-cita hidup didalam mahayan berbeda sekali dengan cita-cita hidup di dalam Hinayan. Di dalam perkembagan Mahayana mengalami bermacam-macam pengaruh, diantaranya dari bergerakan Bakti dan dari aliran Tantra.
Bakti adalah penyembahan pribadi yang berdasarkan kasih kepada dewa yang disembah dan digambarkan dalam bentuk manusia.
Perkembangan lebih lanjut adalah demikian, bahwa para Tathagata itu di hubungkan dengan penjuru alam. Lima Tathagata itu di pandang bersama-sama membentuk tubuh alam semesta. Demikianlah Aksobhya dipandang berkuasa di sorga sebelah timur, Ratnasambhawa di selatan, Amitaba di barat, Amughsiddhi di utara, dan Wairocana di tengah langit.
Pengaruh Thatra  menimbulkan pada Mahayana ajaran tentang Adhi Buddha, yaitu Buddha yang pertama, yang di pandang sudah ada yang mula pertama, yang tampa asal, yang ada pada dirinya sendiri, yang tak tampak karena berada di dalam Nerwana.
B.     Aliran Mahayana dan Hinayana
Timbulnya Mahayana, kereta besar ; atau usaha besar ; jalan besar ; atau aliran utara di India Utara pada waktu itu adalah bahwa ajaran atau doktri agama Mahayana dapatlah dimengerti sebagai lanjutan dari tendensi absolut awal yang merupakan ciri khas utama dari Mahasanghika.
Muculnya nama Mahayana dan literaturnya (sutra dan Sasta) yang dinamakan Mahayana-Sutra menandai suatu masa penting di dalam sejarah filsafat agama Budha. Dasar pemikiran yang mereka kandung adalah masih itu-itu juga yang ditemukan  di dalam ajaran Buddha sebagai penekanan yang telit oleh Mahasanghika. Munculnya Mahayana adalah bangkitnya sesuatu sistesis segar mengenai ajaran guru (Buddha Shakyamuni).
Ajaran Shakyamuni Buddha lazimnya disebut Buddha Darma sering di ibaratkan sebagai ‘’Yana’’ didalam kitab-kitab suci atau sustra-sustra agama Buddha. Mahayana secara harfiyah:
Berarti:
            Maha berarti: besar, luas, agung, diperluas.
            Yana berati: kendaraan, kereta.
            Mahayana berarti kendaraan besar yang menyangkut pengemudinya bersama para penumpang untuk mencapai suatu tempat yang dituju.
Ada dua Aliran Mahayana yang terkemuka adalah Madhyamika yang didiran oleh Nagarjuna bada abad ke-2, yang di Jepang di wakili oleh Sekte Sanron, dan Yogacarya (Vijnanawada), yang didirikan oleh Asangga dan Vasubandhu pada abad ke-4. Madhyamika tumbuh secara logis dari Agama Buddha awal dengan tiga doktrinya, jalan tengah, tiadanya ego permanen, dan elemen-elemen (Dharma-Dharma) yang bersifat sementara serta mengalami kematian, tetapi Madhyamika mengembangkan ajaran itu sampai pada pendapat bukan hanya individu, melainkan juga elemen-elemen diangap tidak nyata. Nagarjuna menjelaskan realitas tertinggi sebagai sunyata atau kosong, aliranya disebut Madhyamikia karena mengerjakan jaran tengah dimana eksistensi dan non eksistensi hanya memiliki kebenaran relatif, sedangkan kebijaksanaan sejati adalahpengetahuan tentang makna kekosongan yang nyata. Mengenai kekosongan yang sejati tergantung pada pengertian dari bentuk Agama Buddha ini, tetapi ajaran ini sering dipengerti secara salah. Kekosongan adalah kekosongan semata-mata dalam pengertian bahwa ia bebas dari pembatasan-pembatasa pengetahuan yang relative pencerahan saja yang dapat menjelaskan apakah kekosongan itu sebenarnya.
Aliran Yogacarya, yang didirikan oleh dua cendekiawan besar Mahayana dalam banyak hal memiliki persamaan dengan aliran Madhyamika. Semua fenomena berasal dari pikiran dan tidak ada suatu apapun yang eksis selain pikiran. Sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Hinayana, Vijnanamatra berlanjut dengan pembagian analitis terhadap Pancaskandha dan elemen-elemen. Hasilnya berbeda dengan Hinayana dalam hal menegaskan bahwa bukan hanya objek-objek yang menglami perubahan, substansi-substansi juga tidak kekal menurut sistem pemikiran ini, sepirit dan materi adalah satu dan semua objek eksternal adalah hasil dari satu pikiran.
Aliran Mahayana. Tuhan dipahami dalam cara yang tidak jauh berbeda dengan agama-agama lain. Dalam aliran ini Tuhan dikenal melalui ajaran Trikaya dan Adhibudha.
Ajaran Trikaya dikemukakan pertama kali oleh Asfagosha pada abad pertama M  untuk menerangkan Hirarki Para Buddha dengan Bodhisattwa. Trikaya timbul sebagai akibat dari adanya perbedaan pandangan terhadap Buddha dan manifestasinya dalam beberapa aliran agama Buddha yang mula-mula seperti Stafirafada, Mahasanghika dan Sarfastifada. [2]
Pokok utamanya dari Hinayana adalah Pratya Samud pada perubahan yang terus  menerus , (Santana) mengenai nama rupa: yang terdiri dari panca Skanda. Para pengikit dari Hinayana mencari penarangan individu, Nirwana: yaitu ketenangan, kedamayan abadi dan kebahagiaan. Tujuan Hinayana adalah relisasi mengeni tiada eksistensi mengenaia jiwa (tidak adanya’’ aku’’ pada pribadi).
Metode aliran ini adalah menitik beratkan pada analisis, hanya analisis mengenai psycho-physical phenomena Dharma (elemen) Samskrta (berkondisi) dan asamskrta ( yang tidak berkondisi). Hal ini adalah suatu kebenaran konvensional.
Sedangkan Mahayana mencari” Pudgala-Nairatmya” dan “ Dharma- Nairatmya” (semua Dharma atau elemen yang bereksistensi tidak nyata, kosong dari kenyataan sebenarnya)., yang Mahayana memaksudkan bahwa panca sekandha adalah dasar untuk konsepsi dari Pudgala (jiwa atau tidak adanya” Aku “pada pribadi) tidak ada, dengan kata lain semua elemen dengan objek duniawi dengan mahluk tidak ada.
Mahayana Shakyumani Buddha selama membabarkan Buddha-Dharma atau ajarannya tidak pernak mengajarkan pada siswanya tentang sakte atau aliran-pengelompokan, hal ini perlu diketahui oleh kita sebagai umat Buddha atau siswa Budhha atau pengikut Buddha.
            Buddha Dharma hanya satu yaitu ajaran Shanyamuni Buddha yang berdasarkan cara atau metode latihan diri untuk menjadi Buddha (Samyak: Sambuddha). Buddha Dharma dibagi dua tingkatan sebagai upaya untuk memberi bimbingan kepada para siswa atau umat Buddha yaitu:
  1. Ajaran yang membimbing umatnya menjadi harahapan dan Pratyeka –Buddha sebagai Hinayana (ajarn dasar ).
  2. Ajaran yang membimbing umatnya Bothisattva dan Samyak dan Buddha disebut Mahayana (ajaran luas: ajaran yang diperluas-diperdalam).
Hinayana tidak mencangkup Mahayana, tetapi Mahayana mencangkup Hinayana.
Mahayana berprinsip pada Atmahita dan Parahita, yaitu Atmahita (Atmahitam) yang berarti berfaidah atau bermanfaat bagi diri sendiri kesejahteraan diri sendiri.
Parahita (parahitam) yang berarti berfaidah atau bermanfaat bagi banyak orang. Kesejahteraan orang banyak.
Tujuan akhir bagi penganut Buddha Dharma Mahayana ialah menjadi Bodhisattva tingka Arya terlebih dahulu ( Arya Bodhisattva atau Bodhhisattva-Mahasatva) dan per-maha pranithana (melakukan tekat besar menuju pembebasan diri sendiri dan penyelamatan bagi mahluk lain) dan menjadi Samyat Sam-Buddha (Buddha).[3]
            periode pertama (tahun 5000 S.M.- 0 S.M). merupakan periode Budhisme dasar yang secara luas kemudian dikenal sebagai Hinayana. Periode ke dua (0 S.M -500S.M) ditandai dengan kebangkitan Mahayana.
Periode ke dua, tahun 0 S.M -500S.M. Mahayana yang berkembang di India Barat-Laut, dan India Selatan. Dengan pengaruh dari kesenian Yunani dalam Helley Niatic dan bentuk Roumanian dan pengaruh ide dari keduanya Mediteranian dan dunia Iranian. yang mempengaruhi Mahayana dari luar saja, sedangkan inti pokoknya seperti doktrin tidak berubah dan tidak dipengaruhi sama sekali. Agama Buddha Mahayana adalah universal.
Selama kurun waktu itu Mahayana telah berkembang keluar Negeri asalnya di India, Mahayana berkembang sampai ke Timur jauh seperti Nepal, Tibet, Mongolia, China, Indonesia, Korea dan Jepang.
Mahayana berkembang dalam dalam dua tingakatan. Yang pertama dalam bentuk yang sistematis, yang berlangsung antara tahun 100 SM sampai 500 M. setelah tahun 500 M, suatu bentuk filsafat yang sistematis, yang menuju abad ke-2 sekte yang berbeda yaitu Madyamika dan yogacarin. Semua sutra-sutra Mahayana juga  juga disebarkan oleh Buddha Shakyamuni. Pada waktu yang bersamaan, Konsili di Rajagraha, dimodifikasikan sutra-sutra Hinayana, begitu juga sutra-sutra Mahayana dikodifikasikan oleh hava yang dismpan selama 500 tahun dan dititipkan kepada kerajaan Naga Laut yang kemudian waktunya akan diambil oleh Nagarjuna
Perkembangan tentang kebudhaa dalam aliran Mahayan mengalami perkembangan lebih rumit, bersifat mistis dan filosofis.
Budha dipandang memiliki tiga aspek.
  1. Aspek inti, yang mencakup semuanya, bersifat buani dan tidak dapat terbayangkan sebagai inti iyalah inti dari Darma, inti dari kehidupan dan kebenaran itu sendiri
  2. Aspek kemampuan, yang tidak terbatas dan tidk manifestasi.sebagai aspek kemampuan ia adalah dharma, yang diangap sebagai prinsip-prinsip kebenaran,mengandung potensi dan tidak bermanifestasi, ia adalah tubuh penganti dari kebudhaan yang di agungkan.
  3. Aspek manifestasi, iaitu memanisfestasikan dari pada tubuh duniawi Sakyamuni Budha dan Budha duniawilainya.
Dari tiga spek Budha di atas akhirnya tersusun badan Budha, yaitu dharmakaya dan nirmanakaya, yang menempati tiga kedudukan keagamaan aliran Mahakaya.
dDharmakaya, adalah Buddha dengan pengetahuan dengan sempurna. Ia adalah permulaan dan tidak berbentuk yang merupakan pengalaman yang bener-bener bebas dari segala kekeliruan atau penglaman yang melekat. Di dalam dharmakaya inilah terdapat intisari alam semestayang mencakup samsara maupun nirwana, yang selalu dalam dua, utup kesadaran iyaitu analisis terakhir berada dalam pengatahuan yang murni. Dharmakaya adalah intisari hakikat wujud-wujud duniawi dari buhda, yang juga disebut kenyataan tubuh hakiki dan kesadaran dasar.
Dari beberapa pengertian yang di kemukakan tentang dharmakaya terlihat bahwa dharmakaya di pandang sebagai yang mutlak, asal usul dari semua yang ada,  yang dalam bahasa agama disebut dengan Tuhan.perbedaan yang ada dalam mahakaya tidak terletak pada ada tidaknya esensinya, namun hanya terbatas pada pemahaman tentang sifat dari dharmakayaitu sendiri.
Sambhogakaya adalah tubuh rahmat, tubuh kebahagiaan atau tubuh cahaya.ia juga disebut transenden Budha yang tidak bisa diamati oleh perasaan dan akal, tetapi hanya di alami oleh spiritual.  [4]
  1. Lima doktrin utama dari Mahayana
  1. Sehubungan dengan tujuannya , pergeseran dari ide arhat menjadi ide Bodhisattwa.
  2. Suatu cara pengolahan diri, yang menitik beratkan pada maƮtre-karuna yang sejajar dengan prajna yang ditandai dengan paramita.
  3. Kepercayaan suatu Srandhha yang diberikan pada suatu jumlah yang Tathagata. Tuhan Yang Maha Esa, para Budhha, para Budisattwa, para Deva, orang-orang mulia dan suci.
  4. Mentrapkan metode Upaya-Kausalya.
  5. Doktrin mengenai Sunyata,Tathara dan sebagainya.[5]
  1. Latar Belakang Politik Terhadap Agama Buddha Mahayana
Periode yang tidak begitu jelas dalam sejarah India mulai setelah akhir dari perioda Maurya, yaiut sekitar abad ke-2 SM. Tapi arus Buddisme menerima dorongan itu dari Raja Asokamengallir dengan tenang tanpa adanya pengaruh dan perbedaan-perbedaan politik.
Selama periode Murya, yang permulaanya menurut agama Buddisme terbagi menjadi delapa belas atau lebih sekte, disebabkan dari pandangan-pandangan berbeda diantara mereka tentang mengitepretasi perihal ajaran Buddha. Salah satu dari sekta itu adalah Mahasanghitka menginterpretasikan ajaran-ajarannyadalam suatu cara, yang akhirnya membawa kemunculan secara matang Agama Buddha Mahayana. Perlu di catat bahwa menelusuri agama Buddha Mahayana dapat ditemukan bahkan dalam sutta pitaka bahasa pal, sebagai literature permulaanyang memuat ajaran Buddha.
Pada waktu itu, suatu usaha telah dibawakan untuk memberikan beberapa keterangan dalam periode yang tidak begitujelas itu sebagai disebutkan di atas.
Sekitar abad ke-2 dan ke-1 S.M. agama Buddha Mahayana telah menjadi suatu faseagama yang diakui dan dikenal, dan secara perlahan-lahan dan pasti terus berkembang sampai ke Asia Timur,China dan Timur jauh perbatasan Rusia. Muncul pada fase terakhir ini Agama Buddha Tantra Mahayana.[6]







DAFTAR PUSTAKA       
T Suwarto , Buddha Dharma Mahayana, Jakarta: Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia

Ali Mukti , Agama-Agama Dunia, Yokyakarta: PT. Hanindita,1988

Hadiwijoyo Harun, Agama Hindu dan Budha, Jakarta: Gunung Mulia, 2010
                                               
Conce Edward, a Short History of Buddha, London, 1982


                                                


                                            


[1] Harun Hadiwijoyo, Agama Hindu dan Budha, Jakarta: Gunung Mulia, 2010 hal. 63
[2] Mukti Ali, Agama-Agama Dunia, Yokyakarta: 1988, hal.116
[3] Suwarto T, Buddha Dharma Mahayana, Jakarta: Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia

[4] Mukti Ali, Agama-Agama Dunia, Yokyakarta: 1988, hal.116
[5] Edward Conce, a Short History of Buddha, London, 1982, hal. 55
[6] Suwarto T, Buddha Dharma Mahayana, Jakarta: Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar