Kamis, 30 Mei 2013

BUDHISME DI CINA (Arif Nurahman)




BUDHISME DI CINA

Makalah
Disusun Untuk Memenuhi Tugas pada Mata Kuliah Budhisme


Oleh:
Arip Nurahman (1111032100025)


JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA

2013


A.   Pendahluan
Dari segi geografis, perkembangan aliran agama Budha di luar India memperllihatkan pembagian wilayah yang cukup menarik. aliran Theraveda berkembang di selatan , ke wilayah yang sekarang di sebut dengan Srilanka, Burma, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, dan Indonesia. Sementara aliran Mahayana berkembang Ke utara memasuki wilayah-wilayah Nepal, Tibet, Mongolia, Cina, Korea, dan menyebar ke Jepang, juga Indonesia.Dalam makalah ini akan diuraikan perkembangan Agama Budha di Cina.
Tidak diketahui secara pasti kapan agama Budha masuk ke Cina, namun pendapat yang umumnya diterima ialah Buddhisme pertama kali dibawa ke Cina dari India oleh para misionaris dan pedagang di sepanjang Jalan Sutra yang menghubungkan Cina dengan Eropa pada akhir Dinasti Han (202 SM - 220 M). Agama Buddha mulai berkembang di Cina sekitar abad ke-2 s.M melalui Asia Tengah serta mulai berpengaruh pada masa pemerintahan kaisar Ming (58-75 M).[1]

B.   Pembahasan
1.      Sejarah Cina Sebelum Masuknya Agama Budha
Menurut H.G.Creel, tulisan tentang Cina yang paling dini yang sampai ke tangan kita berasal dari sebuah kota yang merupakan pusat dari raja-raja Shang sekitar tahun 1400 SM, kota ini merupakan pusat dari suatu peradaban yang sudah cukup besar dan maju. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya gedung-gedung yang besar, bejana perunggu yang indah kain sutra yang ditenun dengan sempurna, dan banyak lagi yang lainnya. Walaupun bangsa yang berbudaya tinggi ini memiliki banyak kitab, namun kebanyakan sudah lama musnah. Sehingga informasi yang dapat kita ambil dari mereka hanyalah berupa inskripsi singkat yang tertulis pada tulang dan batu .[2]
Rakyat Shang yang berbudaya tinggi ini ditaklukan pada 1122 SM (sesuai dengan penanggalan tradisional Cina) oleh sebuah suku liar yang berasal dari Cina di bagian sebelah barat yang dipimpin oleh suatu kelompok yang dikenal dengan nama Chou. Kebudayaan pada masa raja-raja Shang dan Chou ini mempunyai peranan penting dalam kehidupan suku bangsa Cina di masa-masa sesudahnya.[3]
Sebelum agama Buddha masuk di Cina, masyarakat Cina sudah memiliki kepercayaan sendiri, yakni Kong Hu Chu yang diajarkan oleh Confusius, dan Tao yang diajarkan oleh Lao Tzu. Agama atau kepercayaan orang Cina pada dewa-dewa, roh leluhur, sudah ada sejak Konghucu lahir. Konghucu bukanlah pencipta dari Agama Cina, tapi penerus dari agama tersebut. Kepercayaan dan tradisi masyarakat Cina sebelumnya dipandang mengandung banyak tahayul yang dapat memberatkan masyarakat.
Agama atau kepercayaan orang Cina sebelum Khonghucu lahir dapat dibedakan ke dalam tiga bagian:
1.      Kepercayaan terhadap roh halus yang terdapat di alam raya
2.      Kepercayaan terhadap roh leluhur yang mereka pandang dapat mengatur dan menentukan jalan hidup mereke didunia.
3.      Kepercayaan terhadap langit. Langit mereka pandang sebagai tempat dewa tertinggi yang mengatur seluruh alam dan seisinya.
Orang Cina pada masa itu (sebelum Khonghucu lahir) selalu dipengaruhi oleh tiga unsur kepercayaan tersebut. Kepercayaan mereka ini dapat dikatakan sebagai kepercayaan animisme yang pada akhirnya menuju kepercayaan monoteisme. Kepercayaan mereka ini dapat juga dikatakan sebagai dasar dari etika dan agama orang Cina di masa yang akan datang.[4]
Pada abad pertama sebelum masehi, penduduk China berkembang dengan pesat. Penduduk negeri ini diperkirakan sudah berjumlah 50 juta. Daerah-daerah subur di sepanjang aliran­-aliran sungai menjadi tempat pemukiman yang memberikan cukup makanan. Padi merupakan bahan pokok utama. Tanaman baru yang berasal dari Champa (Vietnam) yang berkembang pada abad 11 seperti gandum, ubi jalar yang dapat tumbuh pada tanah-­tanah yang sempit, ikut mendorong pertumbuhan jumlah penduduk. Pada sekitar tahun 1200, jumlah penduduk China diperkirakan berjumlah 100 juta, jumlah tersebut menurun menjadi sekitar 65 juta pada tahun 1368 yakni pada tahun berakhirnya dinasti Mongol. Sejak itu jumlah penduduk mengalami peningkatan. Namun, laju pertumbuhan penduduk tidak terlalu pesat karena mengalami beberapa hambatan yang disebabkan oleh bencana alam (banjir, penyakit), peperangan, dan kerusuhan sosial.
Penduduk China terdiri dari suku-suku bangsa dengan bahasa yang berlainan. Suku yang utama adalah Bangsa Han, yang mengembangkan dasar-dasar kebudayaan dan politik sejak dinasti Han (202-220 SM). Para ahli bahasa menggolongkan bahasa China dalam keluarga Sino-Tibet. Dialek-dialek yang merupakan bagian dari bahasa China beberapa diantaranya adalah dialek Wu atau Soochow, didapati di sekitar sungai Yangtze dan Shanghai, dialek Min diwakili oleh Amoy (Fukien selatan) dan Swatow (Kwantung dan pulau Hainan), dialek Hakka Yueh (Kanton), serta suku-suku minoritas di selatan dan barat yang berdarah campuran Turki dan Mon­gol. Karena pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat, kesulitan bahasa telah melahirkan bahasa Mandarin sebagai bahasa nasional pada abad ke-20 ini.


2.      Sejarah Masuknya Agama Budha di Cina
Secara tradisi dikatakan bahwa penyebaran Agama Budha dari India ke Tionghoa (Cina) dan terjemahan kitab suci yang pertama kali dari bahasa Sansakerta ke dalam bahasa Mandarin terjadi selama kerajaan ‘kaisar Pertama’ atau The First Emperor (Shih Huang –Ti; tahun 246-210 S.M.), dari Dinasti Ch’in yang berlangsung singkat. Menurut sejarah ini, 18 orang bijak yang membawa kitab suci Agama Budha dari India ke Cina, dimana Agama Budha sudah diterima oleh orang-orang Tionghoa (Chinese).[5]
Menurut pendapat yang umumnya diterima ialah Agama Buddha mulai berpengaruh di Negeri Cina Pada pertengahan Abad pertama, pada kekuasaan Dinasti Han dibawah pemerintahan Kaisar Ming Ti (58-76). Menurut ceritanya, pada tahun ketiga dari pemerintahannya, Kaisar Ming Ti bermimpi melihat suatu benda terbuat dari emas yang terbang melayang di atas istananya. Kepala benda itu bersinar seperti matahari dan bulan. Menurut tafsiran menterinya hal itu menunjukkan akan kelahiran makhluk ilahi (Buddha) di sebelah barat Cina. kaisar Ming Ti segera mengutus 18 orang ke India. Hasil perutusan itu ialah bahwa ada dua orang Bhiksu datang ke Cina, yang kemudian banyak menterjemahkan banyak kitab Budhis.[6] Kedua Bhiksu itu adalah Kashyapamatangadan Mdian Dharma Raksha. Bhiksu-bhiksu ini menterjamahkan sejumlah  naskah Budist, termasuk sutra 42 Bab’ (Ssu-shih-erh-chang-ching), di satu Vihara di Loyang, kemudian menjadi ibukota Han sebagai yang pertama kali. Menurut tradisi, Sutra 42 bab itu adalah hasil karya terjemahan bersama-sama oleh Kashyapamatanga dan MdianDharmaraksha.

3.      PerkembanganAgama Buddha di Cina
Ketika Kaisar Ming Ti (58-76 M) mengirimkan utusan ke India untuk meneliti agama Budha. Perkembangan awal agama tersebut di Cina kurang memperlihatkan hasil yang menggembirakan karena mendapat perlawanan dan tantangan dari kepercayaan dan filsafat asli Cina yang telah berkembang sebelumnya, seperti yang telah diajarkan oleh Konfsius, selain ajaran dan filsafat buddha dianggap terlalu kaku dan metafisis sehingga dirasakan sangat bertentangan dengan alam pikiran Cina yang praktis dan materialistis. Perkembangan yang cukup pesat mulai terjadi setelah abad kedua Masehi, yang antara lain karena jatuhnya Dinasti Han yang diikuti dengan merosotnya faham Konfusianisme dan Taoisme sehingga mengakibatkan Cina menghadapi periode kegelisahan budaya. Tradisi dan struktur sosial yang ada mulai melemah, sementara alternatif baru belum muncul. Dalam tradisi budaya seperti itulah budha mahayana muncul dan dipandang mampu memenuhi kebutuhan yang ada dengan menawarkan suatu bentuk upacara keagamaan yang berbeda dari tradisi-tradisi yang sudah ada sebelumnya di satu pihak, dan dilain pihak kepercayaan dan  tradisi asli tadi memberikan sumbangan dalam membentuk kualitas Agama Budha yang merakyat di Cina.[7]
Kebanyakan kitab suci Agama Budha dari India yang sampai ke China melalui perjalanan darat yang dikenal dengan Silk Road atau Jalan Sutra, walaupun sebagiannya dikirimkan dari India dan Srilanka melalui laut, sutra-sutra agama Budha itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin.[8]
Pada tahun 147 M seorang muni (Rahib) dari Asia Tengah bernama Lokaraksha telah menetap di Loyang, ibukota han masa itu. Pada abad ke-2 sampai ke-4 M mengalir sekian banyak rahib dari India ke Tiongkok dangiat menyalin sutras ke dalam bahasa Tionghoa. Diantaranya terkenal Kumarajiva (344-413).
Pada tahun 399 M seorang rahib Tionghoa bernama Hsien bersama rombongannya terdiri atas 10 orang melawat ke India melalui jalan darat untuk mempelajari agama Budha pada pusatnya. Empat belas tahun kemudian, yakni pada tahun 413 M, ia pun pulang melalui jalan laut dengan singgah di Sriwijaya (Sumatera) dan di Taruma Negara (Jawa Barat), dan tiba kembali di Nanking. Ia giat menyalin berbagai sutras. Catatannya pada negeri-negeri Budha (Record of Buddhist Countries) amat terkenal sampai kini.
Dalam masa dua setengah abad sepeninggalnya banyak lagi pelawat, terdiri dari rahib-rahib Tionghoa, berangkat ke India. Tetapi catatan perlawatan mereka itu lenyap kecuali petikan-petikan singkat  dijumpai pada berbagai naskah tua. Menjelang penghujung abad ke-7 M, seorang rahib Tionghoa bernama Hsuan-Tsang (I-Tsing) melakukan perlawatan lagi ke India dan catatan perlawatannya pada berbagai wilayah barat itu (Record of Western Regions) merupakan salah satu sumber sejarah sampai kini. Ia mengeluh menyaksikan agama yang di cintainya itu telah kehilangan pengaruh pada anak benua India.[9]
Pada periode awal perkembangan Agama Budha di Cina itu banyak didirikan wihara-wihara dan dilakukan penerjemahan naskah-naskah kedalam bahasa Cina. Salah seorang penerjemah yang terkenal adalah Sarvastivadin yang telah mengerjakan terjemahan tidak kurang dari 100 naskah Buddha kedalam bahasa Cina. Akan tetapi masa keemasan agama Budha di Cina terjadi antara abad ke-7 M Hingga abad ke-9 M dibawah kekuasaan Dinasti Tang. Pada masa ini, kontak antara Cina dan India tidak hanya terbatas pada bidang keagamaan saja, tetapi juga menyangkut bidang-bidang yang lain. Dinasti Tang memiliki ciri keterbukaan kuat terhadap pengaruh asing dan pertukaran unsur kebudayaan dengan India. Namun, pengaruh asing kembali dianggap negative pada masa akhir Dinasti Tang. Pada tahun 845, Kaisar Tang Wu Tsung melarang semua agama asing untuk lebih mendukung Taoisme yang merupakan ajaran pribumi. Maka dengan ini, berakhirlah kejayaan kebudayaan dan kekuasaan intelektual Buddha.[10]
Pada Masa Dinasti Tang, agama Buddha diadaptasikan dan dikombinasikan dengan kebudayaan setempat, seperti terlihat dalam berbagai karya seni yang bercorak keagamaan. Masa keemasan ini juga ditandai dengan banyaknya para ilmuwan Cina yang melakukan perjalanan untuk mempelajari dan menulis sejarah agama ke berbagai negeri termasuk Nusantara, menterjemahkan kitab-kitab sutra dan memperkaya dengan ide-ide keagamaan yang ganjil dan menakjubkan. Diantara para ilmuwan itu adalah fa Hien, Hi Nen Tsang dan I’Tsing.
Namun kemajuan agama Budha di Cina itu ditandai pula dengan kebangkitan kembali Konfusianisme  yang bersifat sosial-elitis sehingga sering berbenturan dengan ajaran Budha yang menekankan pada kehidupan sejati melalui hidup membiara sebagai Bhikkhu. Pertentangan tersebut merembet pula pada tradisi Cina yang menekankan pada kehidupan keluarga di satu pihak, dengan ajaran Buddha untuk hidup selibat dan membiara di lain pihak yang secara ekonomis tidak membantu pengembangan produktivitas keluarga dan masyarakat. Namun sejauh itu agama Budha tetap mampu mengakomodasikan dirinya dengan kepercayaan tersebut sehingga memperoleh tempat sejajar dengan Konfusianisme dan Taoisme. Bahkan ketiga-tiganya membentuk landasan filsafat dan agama di Cina yang dikenal sebagai SamKauw atau Tri dharma yang berarti tiga ajaran.[11]

4.      Tokoh-tokoh dan Penerjemahan Kitab Suci Agama Buddha di Cina
Diantara tokoh-tokoh Budha di Cina adalah:
1.      Kumarajiva (Ci-mo-lo-shi)
Kumarajiva berasal dari kashmir. Tinggal di Cina mulai awal abad ke-5 M dan memimpin lembaga yang bertugas menterjemah kitab suci agama Buddha ke dalam bahasa Cina. Terjemahannya meliputi 300 jilid buku. Upaya kumarjiva menerjemahkan memperoleh kondisi-kondisi yang mendukung yang tidak dimiliki para pendahulunya. Terjemahan Kumarjiva tersebut sangat didukung oleh pemerintah pada saat itu dan di bantu oleh sejumlah besar cendekiawan yang berpendidikan dan berkebudayaan tinggi, yang muncul karena pengaruh Y.A. Dao An. Namun pencapaiannya yang luar biasa tersebut sebagian besar karena pengetahuannya yang sangat luas dan dalam, dan juga usahanya yang gigih. Guru besar ini memiliki kebijaksanaan yang sangat tinggi. Dia adalah orang yang dihargai dan dimuliakan baik oleh orang Cina maupun oleh orang India. Karya terjemahannya sangat mempengaruhi bidang filsafat, pemikiran, dan literatur Cina. Dibawah petunjuk dan kepemimpinannya, ada ribuan orang yang memiliki kemampuan terlatih. Hal ini memungkinkan agama Budha pada masa itu maju dan berkembang dengan pesat. Kumarajiva meninggal pada tahun 413 M.
2.      Paramartha (Po-lo-mo-tho)
Paramatha berasal dari Ujjain dan dikirim ke Cina oleh raja Magadha, tahun 548 M tiba di Nanking. dia menerjemahkan Mahayana Samparigraha dari Asanga dan komentar-komentar dari vasubhandu pada tahun 563 M. Pada tahun 564 M, ia menerjemahkan Tarka-Sastra dari Vasubhandu. Antara tahun 566-567 M, dia menerjemahkan kembali Tarka-Sastra. Selain seorang penerjemah yang hebat, dia juga seorang guru besar logika Budhis yang hebat. Dia adalah penerjemah yang besar yang telah memberikan konstribusi yang paling penting setelah kumarajiva dan sebelum Xuan Zhung.[12]Paramatha meniggal dalam usia 71 tahun pada tahun 568 M. Meninggalkan karya terjemahan sebanyak 70 judul kitab agama Buddha.
3.      Xuan Zhuang
Apa yang diterjemahkan dan disebarkan oleh Xuan Zhuang berdasarkan pada ajaran Dharmapala sebagai patokan murid-muridnya menganggap ide Paramartha dan pandangan dari guru-guru besar Dasabhumi-sastra-sastra sebagai pemikiran kolot atau terjemahan versi lama. Dan mereka menganggap apa yang diterjemahkan da disebarkan oleh Xuan zhuang sebagai terjemahan versi baru.[13]
4.      Budhabhadra menerjemahkan Matamasaka-Sutra antara tahun 418-421 M.
5.      Dharmaksema menerjemahkan Mahaparanirvana-sutra pada Tahun 421 M
6.      Gunabhadra menerjemahkan Lankavatara-sutra pada tahun 443 M.
7.      Bodhiruci menerjemahkan sutra-sutra dan komentar-komentar sekte Yogacara Mahayana (sistem dari Asanga dan Vasubhandu)
Penyebaran Agama Budha di Cina tidak dapat dipisahkan dari peranan penerjemahan yang paling awal, seperti yang disebutkan diatas  berlangsung pada kaisar Ming Ti dilakukan oleh Kasyapamatanga dan Zhu Fa Lan yang mulai menerjemahkan sutra 42 Bagian. Konon mereka juga menerjemahkan beberapa sutra lainnya. Semua ini merupakan penerjemahan yang paling awal.
Selama masa akhir Dinasti Han penerjemah yang paling terkenal adalah diantaranya:
a.       An Zhi Gau dari An Xi (sekarang di wilayah Iran)
b.      Lokaksema dari Re Zi, Kang Seng Hue, dan Kang Seng Kai dari Kang Ju (sekarang di Siberia di Rusia)
c.       Seorang Biksu Cina berdarah Da Re Zi, Zhu Fa Hu yang merupakan salah satu misionaris terawal yang pergi ke India untuk mencari Dharma. Karena usaha mereka, banyak kitab suci baik dari aliran Srawaka maupun Mahayana diterjemahkan kedalam bahasa Mandarin.
Perbedaan antara kitab-kitab yang diterjemahkan oleh para penerjemah diatas adalah ada dua sistem utama diantara mereka. Satu sistem termasuk kedalam aliran Theravada yang memiliki ajaran sutra Agama dan doktrin meditasi sebagai subjek utama, yang dapat diwakilkan oleh An Shi Gao. Yang lain tergolong kedalam aliran Mahayana, yaitu berdasarkan Sitra Prajna dan Konsep Tanah Suci, yang dapat diwakilkan oleh Lokaksema. Kedua sistem ini terus berkembang secara bersamaan.[14]
Setelah akhir masa Dinasti Tang, agama Budha lambat laun mengalami kemunduran. Situasi demikian terus berlanjut sampai Dinasti Qing. Namun semenjak Dinasti Qing, agama Budha mulai diperbaharui kembali. Banyak orang berbakat yang muncul, diantara tokoh-tokoh yang terkenal dari agama Budha modern tersebut adalah Yeng Ren Shan (1837-1911). Dengan tujuan melatih personil Budhis dan memperluas sirkulasi buku-buku Budhis sehingga dapat mempermudah penelitian Budhis, dia menghabiskan beberapa dekade untuk memberikan eramah dan mengembangkan publikasi Budhis. Dari Jepang, dia memboyong banyak hasil karya penting sekte Madhyamika dan Yogacara yang telah hilang di Cina. Dia juga yang berperan dalam percetakan penerbitan hasil karya tersebut di Jing Ling Ke Jing Zu (Biro Percetakan Kitab Suci Budhis Jing Ling).



5.      Perkembangan Agama Buddha Saat ini di Cina
Pada tahun 1954, saat berlangsungnya Konferensi Tenaga Penerjemah Literatur Cina, Ketua Masyarakat Penulis, Mr. Mao Duen, berkata dalam pidatonya: proses penerjemahan di negara kita merupakan suatu sejarah yang panjang dan tradisi yang patut di banggakan. Metode-metode yang teliti dan ilmiah dalam menerjemahkan kitab-kitab suci Budhis dan prestasinya yang luar biasa patut kita banggakan. Semua ini pantas dijadikan sebagai teladan.”[15]
Sampai saat ini agama Buddha masih merupakan agama utama bagi orang Cina. Pada bulan April 2006 Cina mengorganisir Forum Buddhis Dunia, sebuah event yang diadakan setiap dua tahun sekali. Pada Maret 2007 pemerintah Cina melarang aktivitas penambangan di gunung-gunung suci bagi umat Buddha. Pada tahun yang sama, di Changzhou, pagoda tertinggi di dunia dibangun dan dibuka untuk umum. Pada Maret 2008, organisasi Buddha Tzu Chi (Taiwan) diizinkan membuka cabangnya di Cina daratan. Hal-hal ini semakin menunjukkan dukungan pemerintah Cina yang komunis dan sekuler terhadap perkembangan agama Buddha Mahayana sebagai agama tradisional dan mayoritas di sana. Sedangkan agama Buddha Theravada dan Tibetan tetap dipraktikkan oleh etnis minoritas di sebelah barat daya dan utara Cina.
Meskipun pergeseran China untuk ateisme setelah Komunis menguasai Cina pada tahun 1949, Buddha terus tumbuh di Cina, terutama setelah reformasi ekonomi pada tahun 1980an. Saat ini ada diperkirakan pengikut agama Buddha di Cina dan lebih dari 20.000 kuil Buddha. Ini adalah agama terbesar di Cina.[16]

6.      Buddhisme sebagai Agama Negara
Popularitas Buddhisme, menyebabkan konversi cepat untuk Buddhisme kemudian oleh penguasa Cina. Dengan diterjemahkannya salinan kitab-kitab suci ke dalam bahasa Cina, pemikiran dari berbagai aliran Budhis di India masuk kedalam kebudayaan bangsa Cina. Selama periode yang panjang menyangkut p[enyerapan dan penerimaannya, agama Budha di Cina mengalami perkembangan yang kreatif. Masa dinasti Sui dan Tang dari akhir abad ke-6 M sampai ke pertengahan abad ke-9 M merupakan masa puncak agama Budha di Cina. Dalam periode ini berkembang pemikiran-pemikiran baru, sebagai akibatnya munul berbagai aliran. Hal ini merupakan suatu hal yang luar biasa, bagaikan ratusan bunga bermekaran. Sui dan Dinasti Tang berikutnya semua diadopsi Buddha sebagai agama mereka.
Agama ini juga digunakan oleh penguasa asing dari Cina, seperti Dinasti Yuan dan Manchu, untuk menghubungkan dengan Cina dan membenarkan kekuasaan mereka. Para Machus diupayakan untuk menarik paralel antara agama Buddha. agama asing, dan pemerintahan mereka sendiri sebagai pemimpin asing.
Meskipun pergeseran China untuk ateisme setelah Komunis menguasai Cina pada tahun 1949, Buddha terus tumbuh di Cina, terutama setelah reformasi ekonomi pada tahun 1980an.

C.   Penutup
Sebelum agama Budha masuk ke Cina, penduduk Cina sudah mempercayai kepercayaan pada arwah leluhur, pemujaan pada alam, dan pemujaan pada langit. Orang Cina pada masa itu (sebelum Khonghucu lahir) selalu dipengaruhi oleh tiga unsur kepercayaan tersebut. Kepercayaan mereka ini dapat dikatakan sebagai kepercayaan animisme yang pada akhirnya menuju kepercayaan monoteisme. Kepercayaan mereka ini dapat juga dikatakan sebagai dasar dari etika dan agama orang Cina di masa yang akan datang.
Agama Buddha muncul di China kira-kira pada abad pertama Masehi dari Asia Tengah sampai dengan abad ke-8 ketika Negara ini menjadi pusat agama Buddha yang penting. Agama Buddha tumbuh pesat selama awal Dinasti Tang (618-907). Dinasti ini memiliki ciri keterbukaan kuat terhadap pengaruh asing dan pertukaran unsur kebudayaan dengan India. Namun, pengaruh asing kembali dianggap negative pada masa akhir Dinasti Tang. Pada tahun 845, Kaisar Tang Wu Tsung melarang semua agama asing untuk lebih mendukung Taoisme yang merupakan ajaran pribumi. Maka dengan ini, berakhirlah kejayaan kebudayaan dan kekuasaan intelektual Buddha.
Dalam filsafat Buddha. Ada orang-orang yang mengikuti Buddhisme Theravada tradisional, yang melibatkan meditasi yang ketat dan membaca lebih dekat dari ajaran asli Sang Buddha. Buddhisme Theravada menonjol di Sri Lanka dan sebagian besar Asia Tenggara.
Agama Buddha yang memegang di Cina adalah Mahayana Buddhisme, yang mencakup berbagai bentuk seperti Buddhisme Zen, Pure Tanah Buddhisme dan Buddhisme Tibet - juga dikenal sebagai Lamaism.[17]
Meskipun pergeseran China untuk ateisme setelah Komunis menguasai Cina pada tahun 1949, Buddha terus tumbuh di Cina, terutama setelah reformasi ekonomi pada tahun 1980an. Saat ini ada diperkirakan pengikut agama Buddha di Cina dan lebih dari 20.000 kuil Buddha. Ini adalah agama terbesar di Cina.[18]














D.   Daftar Pustaka
1.      Ali, Mukti (pengantar). Agama-Agama Dunia. Yogyakarta:IAIN Sunan kalijaga Press. 1988.
2.      Cu, Zhao Pu , Tanya Jawab Mengenai Agama Budha, (Srilanka:karaniya) 2007.
3.      Hadiwijono, Harun. Agama Hindu dan Budha. Jakarta: PT.BPK. Gunung Mulia.1987.
4.      http://budhisme10.blogspot.com/2012/05/peradaban-agama-buddha-di-india-dan-di.html.Diakses pada tanggal 4 April 2013.
5.      http://budhismefaiviel.blogspot.com/2012/06/agama-buddha-di-china.html. Diakses pada tanggal 4 April 2013.
6.      http://belajarbuddha.blogspot.com/2012/05/agama-buddha-di-china.html. Diakses pada tanggal 4 April 2013.
7.      Sou’yb, Joesoef, Agama-Agama Besar di Dunia,(Jakarta:Al-Hasna Zikra), 1996
8.      Suwarto T. Budha Dharma Mahayana. Jakarta: majelis Agama Budha mahayana Indonesia. 1995.
9.      Tanggok, M. Ikhsan, Mengenal Lebih Dekat “Agama Konghucu di Indonesia”. (Jakarta: Pelita Kebajikan), 2005.


[2]Dr. M. Ikhsan Tanggok, Mengenal Lebih Dekat “Agama Konghucu di Indonesia”. (Jakarta: Pelita Kebajikan. 2005).h. 1-2
[3]Ibid, h. 2-3
[4]Dr. M. Ikhsan Tanggok, Mengenal Lebih Dekat “Agama Konghucu di Indonesia”. (Jakarta: Pelita Kebajikan. 2005).h. 11.
[5]. Drs. Suwarto T, Budha Dharma Mahayana, (Jakarta: majelis Agama Budha mahayana Indonesia, 1995). h.463.
[6]Dr.Harun Hadiwijono,Agama Hindu dan Budha, (Jakarta:PT.BPK.Gunung Mulia1987). h.74.
[7].Mukti Ali (pengantar), Agama-Agama Dunia. (Yodyakarta:IAIN Sunan kalijaga Press  1988). h.138.
[8]. Drs. Suwarto T, Budha Dharma Mahayana,( Jakarta: majelis Agama Budha mahayana Indonesia 1995). h.463.
Joesoef Sou’yb, Agama-Agama Besar di Dunia,(Jakarta:Al-Hasna Zikra. 1996), h. 110-111
[10]http://belajarbuddha.blogspot.com/2012/05/agama-buddha-di-china.htm
[11]. Mukti Ali (pengantar), Agama-Agama Dunia, (Yogyakarta:IAIN Sunan kalijaga Press 1988) h.138-139.
[12]Mr. Zhao Pu Cu, Tanya Jawab Mengenai Agama Budha, (Srilanka:karaniya. 2007), h.166-167
[13] Ibid, h.169
[14]Mr. Zhao Pu Cu, Tanya Jawab Mengenai Agama Budha, (Srilanka:karaniya. 2007), h.159-160.
[15]Mr. Zhao Pu Cu, Tanya Jawab Mengenai Agama Budha, (Srilanka:karaniya. 2007), h. 174-175.
[16]http://budhismefaiviel.blogspot.com/2012/06/agama-buddha-di-china.html.
[18]Ibid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar